-->

K.E ^_~ Yang lagi galau ini penawarnya link

Belajar Sains yang Membebaskan



Kesulitan mengajarkan sains yang menyenangkan merupakan salah satu dari sekian banyak problem pembelajaran sains yang selama ini masih dihadapi oleh para pendidik. Akar dari problem ini karena guru terbebani oleh beban kurikulum yang padat, sehingga guru kesulitan menerapkan prinsip belajar menyenangkan dan kesetaraan guru-murid sebagai subyek pembelajar (Doni Riadi,2008).
Membangun prinsip belajar yang menyenangkan merupakan sebuah cara terbaik mempersembahkan sebuah pembelajaran pada siswa, termasuk dalam membelajarkan sains. Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains adalah kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapatkan dan mempergunakan pengetahuan itu (diunduh dari http://www.elearning-jogja.org/mod/resource/view.php?id=2589, tanggal 20 November 2008). Kategori belajar sains yang menyenangkan ini dapat diartikan bahwa siswa dapat bebas berekspresi dalam mempelajari sains. Ketika seorang guru memberikan kepercayaan kepada siswanya untuk bebas berekspresi dalam belajar, maka secara tidak langsung siswanya akan belajar bagaimana mengumpulkan pengetahuan dengan berbagai cara yang kemudian dapat mereka aplikasikan dalam kehidupan sehingga menjadi pembelajaran yang bermakna (Meaningful Learning). Kebebasan berekspresi ini dapat diindikasi dengan terbangunnya pola pikir kritis dan ide kreatif oleh siswa selama proses pembelajaran.
Keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh megahnya gedung sekolah atau lengkapnya fasilitas. Kebebasan anak dalam berekspresi dan kepercayaan pendidik (guru dan orang tua) terhadap mereka justru yang paling utama. Menurut Ahmad Bahrudin (2008), pendidikan itu harus membebaskan sehingga anak dapat tumbuh dengan kreatif (http://sekolah.nh.id).
Seorang guru sebagai pendidik dalam mengembangkan prinsip belajar sains yang membebaskan sebaiknya dapat melakukan pendampingan terhadap pembentukan sikap dan nilai selama siswa berekspresi dalam proses pembelajaran, sehingga sains sebagai sikap, proses dan produk dapat terpenuhi melalui prinsip ini. Sedangkan orang tua siswa sebaiknya tetap dapat memberikan pendampingan pada anak saat belajar di rumah dengan mulai melepas model pola baku pendidikan atau dengan kata lain beralih untuk mengembangkan prinsip belajar yang membebaskan dan menyenangkan di dalam rumah.
Referensi;
Anita Rachman. 2008. Belajar dari Qariyah Thayibah, Pendidikan Alternatif yang     Membebaskan. Artikel. http://sekolah.nh.id
Doni Riadi. 2008. Pemuda dan Pendidikan yang Membebaskan. Esai. http://doniriadi.blogspot.com
http://www.elearning- jogja.org/ mod/resource/view.php?id=2589, tanggal 20 November 2008

*Artikel ini merupakan salah satu kajian dan tugas belajar dalam mata kuliah Landasan Kependidikan dan dapat juga dibaca di http://readthinkwriteact.blogspot.com/

comment 0 komentar:

Posting Komentar

Catatan:
Seluruh komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Komentar yang berbau spam, kasar, menghina, seluruhnya yang bersifat menghancurkan bukan membangun tidak akan ditampilkan. Silahkan bertanya dan memberi pendapat dengan sopan dan sesuai aturan.

Anda diperbolehkan mempublikasikan ulang artikel ini, dengan syarat:
1. Mintalah izin dengan cara berkomentar di bawah artikel ini
2. Wajib menyertakan link ke artikel ini dan menyertakan nama penulis

 
© Klikedukasi 2008 - 2013 | Design by Panembahan Satyapradana | 170p3x