-->

K.E ^_~ Yang lagi galau ini penawarnya link

Produktifitas Karakter Respon Konservasi Berbasis Multiple Intelegence (Studi Kasus Pembelajaran Berbasis Sekolah Alam Ar Ridho Semarang)

Abstrak

    Potensi anak jika sejak dini dikenalkan dengan respon konservasi, akan menjadi sebuah investasi berharga bagi kehidupan bumi selanjutnya. Dalam pembelajaran di sekolah alam ar ridho, pendekatan pembelajaran untuk menumbuhkembangkan potensi seorang anak menjadi penyelamat lingkungan dan memiliki respon yang lebih baik terhadap lingkungan menjadi sebuah contoh bagi sekolah lain untuk mengembangkan model serupa. Produktifitas melalui pengembangan karakter respon konservasi berbasis potensi MI anak menjadi kajian konsep yang perlu dikembangkan.

    Kata kunci: Produktifitas, karakter, Respon konservasi, MI, Sekolah Alam.

Pendahuluan

“Anak adalah manifestasi bangsa di masa mendatang” sebuah slogan penyemangat bagi setiap bangsa untuk berusaha membesarkan generasi masa mendatang dengan lebih bijak dan lebih baik . Berbagai hal dapat dilakukan oleh setiap anak, termasuk mengajarkannya untuk lebih dekat dan mencintai sekitarnya, tak luput dari itu termasuk juga mencintai lingkungan, tempat mereka berpijak. Bumi tempat seorang anak berpijak dalam tumbuh kembangnya pun menjadi hunian belajar yang berperan dalam perkembangan psikososial setiap anak. Aspek psikososial berkaitan dengan kemampuan anak untuk berinteraksi denga lingkungannya    (AsianBrain.com).

Upaya pendidikan ilmu lingkungan dapat dikenalkan sejak dini kepada anak-anak. Hal ini menjadi penting, anak dapat belajar dan berlatih mencitai buminya sejak dini, sehingga unsur respon konservasi dapat tumbuh sejak dini pula. Konsep pendidikan lingkungan untuk anak-anak tentunya lebih kepada aplikasi dan praktek langsung, sehingga lebih menancap di benak setiap anak untuk bertindak nyata. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang dikembangkan oleh Piaget & Inhelder (1962), bahwa setiap anak memiliki tahapan optimal dalam mengembangakn kemampuan individunya.

Mewujudkan produk anak bangsa dengan karakter respon konservasi  tentunya, akan diimbangi dengan kemampuan dan keunggulan bahwa setiap anak adalah unik. Yanga artinya bahwa setiap individu memiliki kemampuan dan keunggulan masing-masing dan dengan cara berbeda pula mereka mengembangkan kemampuannya tersebut. Howard Gadner, seorang Psikolog terkemuka dari Havard University memperkenalkan karakter jenis kecerdasan anak dalam istilah Multiple Intelegence (kecerdasan Majemuk).

Lalu bagaimanakah upaya yang dapat dilakukan oleh setiap instansi pendidikan untuk dapat memperkuat “produktifitas” karakter respon konservasi berbasis MI?, sebagai salah satunya adalah  studi kasus dalam pembelajaran berbasis alam di Sekolah Alam Ar Ridho.

a.   Konsep Sekolah Alam

Konsep pendidikan sekolah alam di Indonesia, awal mulanya digagas oleh seorang bergelar Insinyur bernama Lendo Novo. Konsep ini bahkan bukan saja berimbas pada pendidikan namun kemudian menjadi berkembang dalam lingkup Lingkungan Hidup dan Enterpreneurships (Eko Kurnianto; 2010). Lewat sekolah alam, Lendo dianugerahi Ashoka Award pada tahun 2003 oleh sebuah lembaga humanitas international yang berpusat di Amerika Serikat. Anugerah ini merupakan pengakuan dan penghargaan atas kegiatan Lendo Novo di bidang wirausaha sosial dengan gagasan baru, keahlian, dan visi implementasi pembaruan sosial yang luas di bidang kepedulian sosial. Pada tahun 2009, Lendo mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas jasanya dalam mengembangkan konsep baru pendidikan yang berwawasan lingkungan. Penghargaan tertinggi karena keberpihakannya terhadap penyelamatan masa depan lingkungan melalui pendidikan.

Secara khusus Lendo berharap sekolah alam memberi sumbangan bagi pendidikan di Indonesia. Bahkan Lendo mengatakan, sekolah alam tidak hanya disumbangkan bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia, dan diharapkan dapat mengatasi persoalan pemanasan global. Karena dari sekolah alam akan banyak duta lingkungan yang lahir dari sekolah, yang dapat memperjuangkan kelestarian alam Indonesia. Dalam keyakinannya, seorang Lendo berujar jikalau dari kecil anak sudah terbiasa hidup di alam hijau dan ditanamkan semangat mencintai lingkungan, maka begitu besar ia tidak akan melakukan penebangan pohon.

b.   Multiple Intelegence (Kecerdasan Majemuk)

Teori Multiple Intelegence atau dikela dengan Kecerdasan Majemuk dikenalkan pertama kali oleh Howard  Gardner (1993). Dalam Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences Theory) ada 9 jenis kecerdasan manusia, yaitu:

1.    Kecerdasan Linguistik
Merupakan kemampuan menggunakan kata, baik itu verbal maupun tulisan, termasuk keahlian berbahasa. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh para orator, penulis, penyiar, dll.

2.    Kecerdasan Matematis-Logis
Kemampuan menggunakan angka, penalaran, hubungan sebab-akibat dan hubungan logis suatu peristiwa. Biasanya dimiliki oleh ahli matematika, bankir, dll.

3.     Kecerdasan Spasial
Kemampuan untuk mempersepsi & mentransformasikan dunia spasial-visual, berupa kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ruang & hubungan yang terjadi di dalamnya. Kecerdasan Spasial ini biasanya dimiliki oleh sutradara, desainer, seniman, dsb.

4.     Kecerdasan Kinestetis-Jasmani
Meliputi kemampuan fisik, baik itu kecepatan, kelenturan, kekuatan, dll. Jelas, bahwa kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh atlet, penari, dsb.

5.    Kecerdasan Musikal
Dari namanya pun, sudah bisa tertebak, bahwa ini merupakan kecerdasan yang meliputi kepekaan irama, melodi, ataupun warna suara. Kecerdasan ini tentu saja dimiliki oleh penyanyi, komposer, dll.

6.    Kecerdasan Interpersonal
Kepekaan terhadap ekspresi wajah, suara, gerak-isyarat serta kemampuan membedakan aneka tanda interpersonal & menanggapinya secara efektif. Kecerdasan Interpersonal ini biasanya dimiliki oleh politisi, psikolog, pekerja sosial, dsb.

7.     Kecerdasan Intrapersonal
Merupakan kecerdasan untuk memahami diri sendiri & bertindak sesuai pemahaman tersebut, termasuk juga kecerdasan untuk menghargai diri sendiri. Termasuk didalamnya adalah psikolog, spiritualis, penulis, dll

8.    Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan mengenali benda-benda fisik & fenomena alam. Biasanya kecerdasan naturalis ini dimiliki oleh ahli biologi, pecinta alam, aktivis lingkungan, pendaki gunung, dll.

9.    Kecerdasan Eksistensial
Keahlian pada berbagai masalah pokok kehidupan & eksistensial manusia mencakup pemahaman terhadap pengalaman dalam kehidupannya. Kecerdasan ini sebagian besar dimiliki oleh filosof, spiritualis, ilmuwan, seniman, dsb.



c. Pendidikan karakter

Menurut Sunaryo Kartadinata (http://file.upi.edu/ai.php?dir), seorang Profesor Ilmu pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia, bahwa Depdiknas perlu merumuskan langkah sistemik dan komprehensif untuk mewujudkan pendidikan karakter dalam bingkai sisdiknas.

Pasal 1(3) dan pasal 3 dalam UU. Sisdiknas No.20/2003, merupakan landasan legal formal sebuah keharusan membangun karakter bangsa melalui upaya pendidikan. Tiga ranah yang menjadi sasarn utama dalam pengembangan karakter dalam dunia pendidikan adalah (1) watak dan kecerdasan bangsa sebagai tujuan eksistensial pendidikan, (2)pencerdasan kehidupan bangsa sebagai tujuan kolektif, (3) pengembangan potensi individu sebagai tujuan individu pendidikan.

Berhadapan dengan berbagai masalah dan tantangan, pendidikan nasional pada saat yang sama (masih) tetap memikul peran multidimensi. Berbeda dengan peran pendidikan pada negara-negara maju, yang pada dasarnya lebih terbatas pada transfer ilmu pengetahuan, peranan pendidikan nasional di Indonesia memikul beban lebih berat Pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak (nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial bagi notion building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab (Nurokhim, Bambang : 2007).



Diskusi

Produktifitas dalam istilah harfiah Bahasa Indonesia, lebih identik berkenaan dengan produk atau hasil. Jika dikaitkan dalam dunia pendidikan, produktifitas lebih berkenaan dengan perubahan ke arah yang lebih baik. Mengamati produktifitas karakter respon konservasi berbasis MI, dalam studi kasus di Sekolah alam Ar Ridho, didapati beberapa konsep strategis pencapaian:

1.  Konsep Pembelajaran Alam yang menuntun anak menjadi ‘raja rimba’ bagi dirinya. Eksplorasi kemampuan dan potensi anaka untuk lebih dekat kepada alam, terfasilitasi melalui konsep pembelajaran.

2.  Otonomisasi pendidikan, walaupun kurikulum depdiknas menjadi landasan, namun dalam pelaksanaan pembelajaran, dominasi kreatifitas untuk optimal menggunakan alam sebagai sarana belajar dan laboratorium hidup mendukung perubahan dan pengembangan karakter anak dalam merespon konservasi terhadap alam

3.  Ruang kebebasan berekspresi namun tetap berlandaskan ‘cinta alam’ menjadi sarana pengembangan respon konservasi berbasis MI.

4.  Slogan ‘setiap anak adalah unik’ turut memberikan motivasi kepada seluruh civitas kampus sekolah alam untuk mengoptimalkan kemampuan anak dibantu dengan kemampuan orang tua dalam mendidik anak untuk lebih peduli lingkungan.




Simpulan

Produktifitas karakter respon konservasi berbasis MI dapat dilakukan dengan fasilitasi dan otonomisasi pola pembelajaran di sekolah Alam Ar Ridho. Untuk selanjutnya, setiap sekolah dimanapun, dapat mengadaptasi model pembelajaran dari sekolah alam untuk dapat membangun dan mengembangkan respon konservasi anak sejak dini.

Daftar Pustaka
Nurokhim, Bambang. 2007. Membangun Karakter dan Watak Bangsa Melalui Pendidikan Mutlak Diperlukan. Artikel.   Diunduh tanggal 12 mei 2010 melalui http://www.tnial.mil.id/Majalah/Cakrawal/ArtikelCakrawala
Gardner, H. (1993). Multiple Intelligences: The theory in practice. New York: Basic
Piaget, J., dan Inhelder, B. (1962). The Psychology of the Child. New York:Basic Books
http://www.anneahira.com/kesehatan-anak/index.htm Books.
http://sekolahalambandung.com/2010/01/lebih-akrab-dengan-lendo-novo/

comment 0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan:
Seluruh komentar yang masuk akan dimoderasi terlebih dahulu. Komentar yang berbau spam, kasar, menghina, seluruhnya yang bersifat menghancurkan bukan membangun tidak akan ditampilkan. Silahkan bertanya dan memberi pendapat dengan sopan dan sesuai aturan.

Anda diperbolehkan mempublikasikan ulang artikel ini, dengan syarat:
1. Mintalah izin dengan cara berkomentar di bawah artikel ini
2. Wajib menyertakan link ke artikel ini dan menyertakan nama penulis

 
© Klikedukasi 2008 - 2013 | Design by Panembahan Satyapradana | 170p3x